antropologi slum tourism
etika dan psikologi di balik mengunjungi kawasan miskin
Mari kita bayangkan sebentar. Liburan ideal biasanya identik dengan pantai berpasir putih, museum megah, atau kafe estetik di sudut kota tua. Namun, coba teman-teman perhatikan tren wisata yang perlahan naik daun belakangan ini. Alih-alih mencari keindahan, ribuan orang justru membayar mahal untuk blusukan ke pemukiman paling kumuh di dunia. Mulai dari kawasan Dharavi di India, Favela di Brasil, hingga Bantar Gebang di negara kita sendiri. Fenomena ini punya nama resmi: slum tourism atau wisata kumuh. Terdengar ganjil, bukan? Mengapa kita rela merogoh kocek hanya untuk melihat kemiskinan dari dekat? Apakah ini wujud kepedulian yang tulus, atau jangan-jangan, kita sedang menjadikan penderitaan orang lain sebagai tontonan eksotis?
Sebelum kita buru-buru menghakimi, mari kita mundur sejenak ke abad ke-19. Kebiasaan ini sebenarnya bukan hasil fomo di era media sosial. Di zaman Victoria dulu, kalangan elite London punya hobi bernama slumming. Mereka berdandan necis, menyewa pemandu, lalu berkeliling ke kawasan miskin di East End sekadar untuk melihat bagaimana rakyat jelata bertahan hidup. Dari kacamata psikologi, ada konsep yang bernama downward social comparison. Secara tidak sadar, otak manusia punya kecenderungan untuk membandingkan nasib dengan mereka yang kurang beruntung. Tujuannya sederhana: agar kita merasa lebih bersyukur dan lega dengan hidup kita sendiri. Saat kita melihat gubuk reyot atau anak-anak yang mengais sampah, ada gejolak emosi campuran antara kasihan, ngeri, tapi juga rasa aman bahwa "untung saja itu bukan saya". Namun, ini memunculkan satu pertanyaan besar di kepala saya. Apakah etis menjadikan kemiskinan sebagai alat terapi bersyukur kita?
Di sinilah kita masuk ke dalam wilayah abu-abu yang membuat banyak antropolog berdebat panjang. Di satu sisi, para pendukung slum tourism berargumen bahwa tur semacam ini bisa membuka mata dunia. Katanya, ini mendatangkan uang bagi warga lokal. Ada donasi, ada suvenir yang terjual, dan ada kesadaran global yang terbangun. Terdengar mulia, kan? Namun, di sisi lain, mari kita posisikan diri sebagai warga yang tinggal di sana. Bayangkan teman-teman sedang menjemur baju atau makan seadanya di depan rumah, lalu tiba-tiba ada rombongan turis asing lewat. Mereka menodongkan lensa kamera besar, memotret keseharian kita, mengangguk-angguk prihatin, lalu kembali ke hotel mewah mereka. Ada batas tipis yang mulai kabur di sini. Kapan sebuah kunjungan niatnya murni untuk edukasi, dan kapan ia berubah menjadi poverty porn atau eksploitasi kemiskinan demi kepuasan visual? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak kita saat kita memotret penderitaan orang lain?
Ternyata, sains punya jawaban yang cukup menampar ego kita. Para ilmuwan sosial menyebut fenomena ini sebagai komodifikasi kemiskinan, di mana penderitaan diubah menjadi barang jualan. Secara psikologis, saat kita melakukan slum tourism, otak kita melepaskan senyawa kimia yang menciptakan warm-glow effect. Ini adalah sensasi hangat dan nyaman di dada karena kita merasa telah melakukan sesuatu yang bermoral tinggi dengan "melihat" dan "berempati" langsung. Tapi di sinilah letak bahayanya. Perasaan lega ini sering kali hanyalah ilusi. Kita pulang dengan perasaan menjadi manusia yang lebih baik, mengunggah foto bernada inspiratif di media sosial, namun sistem ketidakadilan yang membuat kawasan itu kumuh tetap tidak tersentuh. Antropologi modern menyadarkan kita bahwa turis sering kali hanya mengkonsumsi kemiskinan secara visual. Kita mengobjektifikasi manusia nyata menjadi sekadar properti untuk memuaskan rasa ingin tahu kita. Warga lokal tetap miskin, sementara kita mendapat cerita edgy untuk dibagikan saat nongkrong.
Lalu, apakah ini berarti kita harus menutup mata dan hanya liburan ke tempat yang indah-indah saja? Tentu tidak. Memahami realitas sosial itu sangat penting bagi perkembangan empati kita. Namun, sebagai pelancong yang cerdas, kita diajak untuk berpikir lebih kritis. Jika teman-teman suatu saat berencana mengunjungi kawasan marjinal, bertanyalah pada diri sendiri dulu. Apa niat utama saya? Jika hanya untuk berfoto dan merasa bersyukur atas hidup sendiri, mungkin lebih baik kita urungkan niat tersebut. Manusia bukanlah hewan di kebun binatang yang bisa ditonton penderitaannya. Berinteraksilah sebagai sesama manusia yang setara. Bertanyalah tentang nama mereka, bukan cuma memotret wajah lelah mereka. Dukunglah ekonomi lokal secara langsung tanpa harus mengeksploitasi privasi mereka. Pada akhirnya, jalan-jalan bukan cuma soal seberapa jauh kaki kita melangkah, tapi seberapa dalam kita mampu memanusiakan manusia di tempat yang kita datangi. Mari kita jadi pejalan yang bijak, bukan sekadar turis di atas penderitaan orang lain.